Jakarta, CNBC Indonesia – Haiti akhir-akhir ini menjadi sorotan dunia. Ini terjadi setelah gangster berhasil menguasai ibu kota negara itu, Port-au-Prince, bahkan melengserkan Perdana Menteri (PM) Ariel Henry.

Sebenarnya, ini bukan cerita lama. Selama bertahun-tahun, geng-geng bersenjata telah mendorong kondisi bergejolak di negara itu.

Namun ada hal yang menjadi perhatian. Dari mana para gangster menapatkan senjata?

Seorang pengacara dan direktur program di Jaringan Pertahanan Hak Asasi Manusia Nasional (RNDDH) Haiti, Rosy Auguste Ducena, mengatakan sebenarnya Haiti tak punya pabrik senjata atau aminisi. Sehingga senjata tersebut berasal dari tempat lain.

Mulai dari pistol hingga senjata semi-otomatis dan bahkan senjata api bergaya militer. Rangkaian senjata dan amunisi yang masuk ke Haiti sebagian besar tidak terkendali di tengah lemahnya institusi negara, korupsi, dan tantangan dalam memantau garis pantai negara itu.

“Sebagian besar, dari Amerika Serikat (AS),” ungkap Ducena dikutip dari Al-Jazeera, Rabu (3/1/2024).

“Saat ini, jika AS  ingin membantu Haiti, mereka dapat membantu mengendalikan apa yang keluar dari negaranya. Itu sudah menjadi hal yang sangat bagus,” tambahnya.

Ketidakstabilan Politik & Kriminal yang Berkuasa

Haiti sebenarnya memang salah satu negara miskin di Amerika. ketidakstabilan politik selama bertahun-tahun terjadi, sebagian besar dipicu oleh intervensi asing serta politisi korup yang secara rutin menggunakan kelompok bersenjata untuk mencapai kepentingan mereka.

Namun situasinya memburuk secara dramatis setelah pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada Juli 2021. Pembunuhan tersebut menciptakan kekosongan kekuasaan, yang pada gilirannya meningkatkan pengaruh geng bersenjata, sekitar 200 di antaranya beroperasi di seluruh negeri.

Menurut PBB, saat ini, geng-geng tersebut kini menguasai sekitar 80% wilayah Port-au-Prince. Mereka semakin banyak mengajukan tuntutan politik, termasuk menyeret Henry mundur dari jabatan PM.

Di Haiti, PBB menemukan bahwa lebih dari 2.490 orang diculik pada tahun 2023 saja, belum lagi 4.789 kasus pembunuhan dilaporkan. Ini merupakan peningkatan sebesar 119,4% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada akhir bulan Januari, Kepala Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) Ghada Waly, membahas proliferasi senjata di Haiti. Ia mengeluarkan peringatan kepada Dewan Keamanan PBB.

“Selama geng-geng tersebut terus memiliki akses terhadap senjata api yang sangat canggih, mereka akan tetap mampu membuat penduduk Haiti terkena teror,” kata Waly.

Diselundupkan dari AS?

Robert Muggah, penulis laporan PBB dan salah satu pendiri Igarape Institute, menyebut bahwa sebagian besar senjata api dan amunisi yang diperdagangkan ke Haiti berasal dari AS. Ia mencatat 80% senjata tujuan Haiti telah disita dan diserahkan untuk dilacak ke Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api, dan Bahan Peledak AS (ATF).

“Lebih dari 50%nya adalah pistol dan sekitar 37% berupa senapan,” katanya kepada Al Jazeera.

Ia mengatakan para pembeli ini menargetkan negara-negara bagian AS dengan “undang-undang senjata yang relatif longgar”. Termasuk Arizona, California, Georgia, Texas dan Florida.

Florida misalnya, memiliki pelabuhan besar dan memiliki ikatan budaya yang erat dengan Haiti yang terletak sekitar 1.100 km dari Port-au-Prince. Miami contohnya, adalah rumah bagi komunitas diaspora Haiti terbesar di AS.

“Setelah dibeli, senjata-senjata tersebut diselundupkan ke Haiti melalui darat, udara, dan laut. Perbatasan Haiti rawan terhadap segala macam barang selundupan, termasuk senjata api dan amunisi ilegal,” jelas Muggah.

“Kombinasi elit politik dan ekonomi, geng dan perusahaan keamanan swasta membeli senjata dari berbagai sumber dan membawanya ke negara itu melalui penerbangan rahasia, dikemas dalam angkutan barang, dan dibawa dengan keledai melintasi perbatasan darat,” tambahnya.

“Dengan geng-geng kriminal yang mengendalikan akses utama dan titik distribusi di seluruh negeri – termasuk pelabuhan, gudang, dan jalan raya – mereka dapat memindahkan produk tanpa mendapat hukuman.”

Matt Schroeder, peneliti senior di kelompok penelitian Small Arms Survey juga menyebutkan penyelundupan senapan ke Haiti juga telah melampaui pengiriman serupa ke negara-negara lain di Karibia. Dalam beberapa tahun terakhir, senjata yang dikirim ke Haiti termasuk AR-15 dan AK-47.

“Ini termasuk senapan semi-otomatis yang sangat populer di AS dan dapat menggunakan magasin berkapasitas tinggi,” jelasnya. 

Ia mengatakan umumnya senjata dengan tujuan Haiti yang berasal dari AS dibeli oleh individu yang dikenal sebagai straw man. Mereka merupakan individu yang membeli senjata dari pedagang berlisensi namun menyembunyikan fakta bahwa pembelian tersebut adalah untuk orang lain.

Apa yang dilakukan Pemerintah Biden?

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Keadilan dan Demokrasi yang berbasis di AS, Brian Concannon, mengatakan “masalah mendasar” adalah bahwa Negeri Paman Sam telah kebanjiran senjata. Di sisi lain, kondisi ini tidak diatur dengan ketat.

Small Arms Survey memperkirakan bahwa warga sipil Amerika memiliki lebih dari 393 juta senjata api pada tahun 2017. Itu berarti satu senjata api untuk setiap 100 orang dan hampir 40% dari persenjataan sipil dunia.

Namun Concannon mengakui bahwa pemerintah AS telah melakukan upaya yang lebih baik selama 18 bulan terakhir dalam upaya membendung aliran senjata ke Haiti. Salah satu dampaknya, katanya kepada Al Jazeera, adalah lalu lintas dialihkan ke Republik Dominika.

“Daripada orang mengirim (senjata) ke Haiti, karena kapal-kapal itu diperiksa dengan lebih baik, mereka malah dikirim ke Republik Dominika dan kemudian diselundupkan (ke Haiti),” kata Concannon.

Salah satu contoh baru-baru ini dari jalur memutar ini melibatkan terpidana penyelundup senjata Elieser Sori-Rodriguez. Pada bulan Februari, ia dijatuhi hukuman hampir lima tahun penjara AS karena menyelundupkan puluhan senjata api dan amunisi dari AS ke Republik Dominika.

Pihak berwenang Dominika mengatakan senjata-senjata tersebut, yang diduga dikirim dalam kotak yang diberi tanda sebagai barang-barang rumah tangga, ditujukan ke Haiti. Namun, pemerintahan Presiden AS Joe Biden telah menerapkan langkah-langkah baru untuk mencoba mengatasi masalah ini, termasuk meningkatkan hukuman bagi pembelian dan penyelundupan

Tahun lalu, Washington menunjuk seorang koordinator untuk mengadili perdagangan senjata api di kawasan Karibia, termasuk di Haiti. Cabang investigasi Departemen Luar Negeri AS dan Departemen Keamanan Dalam Negeri juga membentuk unit investigasi kriminal transnasional di Haiti “untuk memfasilitasi investigasi dan penuntutan”.

“Unit baru ini akan fokus pada kejahatan termasuk penyelundupan senjata api dan amunisi, perdagangan manusia, dan aktivitas geng transnasional,” kata pemerintah AS.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Gangster Acak-Acak 1 Negara! AS CS Ketar-Ketir, Mayat di Mana-Mana


(sef/sef)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *