Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Guyana, Irfaan Ali diketahui melakukan perdebatan cukup panas dengan reporter BBC, Stephen Sackur. Hal tersebut diketahui dalam sebuah video wawancara yang viral belakangan ini.

Perdebatan antara keduanya terjadi ketika reporter BBC mencoba menguliahi Irfaan Ali tentang perubahan iklim. Pemimpin dunia tersebut menolak sindiran Sackur bahwa Guyana akan berkontribusi terhadap perubahan iklim karena mengekstraksi ladang minyak di lepas pantai yang baru ditemukan.

Semula, Sackur menanyai Irfaan Ali mengenai rencana Guyana yang akan mengebor minyak dari lapangan tersebut. Menurut dia, dengan Guyana melakukan kegiatan eksploitasi minyak secara masif, maka hal itu juga akan berdampak pada jumlah emisi karbon yang dihasilkan.

“Dalam satu atau dua dekade ke depan, diperkirakan akan ada minyak dan gas senilai US$ 150 miliar yang diekstraksi di lepas pantai Anda. Sungguh angka yang luar biasa. Namun secara praktis, itu berarti dua miliar ton emisi karbon akan berasal dari dasar laut dan dilepaskan ke atmosfer,” kata Sackur dikutip dari akun Youtube TRT World, Senin (1/4/2024).

Tak terima dengan pernyataan tersebut, Irfaan Ali nampak geram dan langsung memotong apa yang baru saja disampaikan oleh reporter BBC itu dan berkata.

“Biarkan saya menghentikan Anda sekarang juga! Tahukah Anda bahwa Guyana memiliki hutan seluas gabungan Inggris dan Skotlandia, hutan yang menyimpan 19,5 gigaton karbon, yang tetap kita jaga keberlangsungannya,” ujarnya.

Sackur mencoba membalas dengan menanyakan apakah melindungi hutan Guyana memberinya hak untuk melepaskan karbon ke atmosfer. Pertanyaan yang dilontarkan oleh reporter BBC tersebut lagi-lagi membuat Ali naik pitam dan menjawab.

“Apakah Anda berhak memberi tahu kami tentang perubahan iklim? Saya akan memberi kuliah kepada Anda tentang perubahan iklim. Kami telah menjaga hutan ini tetap hidup sehingga Anda dapat menikmatinya dan dunia dapat menikmatinya, yang tidak Anda bayar untuk kami, yang tidak Anda hargai. Tebak apa? Kita mempunyai tingkat deforestasi terendah di dunia! Tebak apa? Bahkan dengan eksplorasi minyak dan gas terbesar sekalipun, kita masih akan menjadi net zero,” tambahnya.

“Inilah kemunafikan yang ada di dunia. Dunia dalam 50 tahun terakhir telah kehilangan 65% keanekaragaman hayatinya. Kami telah mempertahankan milik kami,” tambahnya.

Presiden Guyana yang marah kemudian bertanya kepada Sackur apakah dia berada di kantong orang-orang yang merusak lingkungan melalui Revolusi Industri. Bolak-balik antara jurnalis BBC dan Presiden Guyana juga mengingatkan pada perdebatan seputar isu imperialisme karbon.

Imperialisme karbon adalah istilah yang digunakan oleh negara-negara berkembang yang merasa negara-negara Barat dan Utara memaksakan pandangan mereka mengenai perlindungan lingkungan dengan memberi kuliah tentang emisi karbon, namun mengabaikan bahwa dalam perekonomian berbasis karbon, negara-negara maju harus bergantung pada karbon untuk pertumbuhan mereka.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Produksi Minyak RI Ambles Terus, 2024 Gimana? Menteri ESDM: Berat!


(pgr/pgr)




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *